Saturday, February 22, 2014

PGRI Sejak Lahirnya Orde Baru


1A.    Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI)

Peristiwa G30 S/PKI merupakan puncak dari apa yang sebelumnya berlangsung dalam tubuh PGRI, yaitu perebutan pengaruh antara kekuatan anti PKI dan pro-PKI, infiltrasi dan fitnah oleh kelompok pro-PKI, berdirinya PGRI Non-Vaksentral, dan lain-lain. Setelah itu PGRI-Kongres (yang dibedakan dari PGRI Non-Vaksentral) dibawah pimpinan M.E Subiadinata dan kawan-kawan. Bersama para pelajar, mahasiswa, sarjana, para guru anggota PGRI turun ke jalan dengan meneriakkan TRITURA. Mereka membentuk kesatuan-kesatuan aksi, misalnya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia) KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia), dan KAGI (Kesatuan Aksi Guru Indonesia) pada tanggal 2 Februari 1966.

PGRI bersama-sama dengan Persatuan Guru NU, Ikatan Guru Muhammadiyah, Ikatan Guru PSII (Serikat Islam Indonesia), Ikatan Guru Marhaenis (PNI Osa-Usep), Persatuan Guru Kristen Indonesia, Ikatan Guru Katolik, Persatuan Guru Islam Indonesia, dan Persatuan Guru PERTI membentuk KAGI. Khusus di Jawa Barat dibentuk KAPPP (Kesatuan Aksi Pembela Pendidikan Pancasila) atau disebut juga “KAGI Edisi Jawa Barat”.

Tugas Utama KAGI :
a). membersihkan dunia pendidikan Indonesia dari unsure-unsur PKI dan Orde Lama, yaitu PGRI Non-Vaksentral/PKI. Serikat Sekerja Pendidikan, dan PGTI (Persatuan Guru Teknik Indonesia).
b). menyatukan semua guru di dalam satu wadah organisasi guru, yaitu PGRI
c). memperjuangkan agar PGRI menjadi organisasi guru yang tidak hanya bersifat unitaristik, tetapi juga independen dan non-partai politik.

Semula, Kongres XI PGRI direncanakan untuk diadakan pada tahun 1965, namun sudah dua kali tertunda. Pertama, pada bulan November 1965 tidak jadi dilaksanakan karena peristiwa G30-S/PKI. Kedua, bulan November 1966 Kongres juga tidak jadi dilaksanakan karena adanya “dualisme” dalam kepemimpinan nasional dan kehidupan politik di Indonesia, yaitu antara Ir. Soekarno yang secara de facto telah lumpuh kekuasaannya dengan Mayjen TNI Soeharto yang menjadi pejabat presiden ketika itu.

Tanggal 15-20 maret 1967  Kongres XI akhirnya terlaksana di gedung bioskop alun-alun Bandung. Dalam Kongres ini terasa sekali suasana peralihan dari zaman orde lama ke zaman orde baru. Bukti keberhasilan orde baru dalam kongres ini terlihat dari hasil di bidang umum atau politik dan susunan PB PGRI masa bakti XI.

Adapun hasil kongres bidang umum dan politik adalah sebagai berikut :
·         Memenangkan perjuangan untuk menegakkan dan mengembangkan orde baru demi suksesnya Dwi Darma dan Catur Karya Kabinet Ampera
·         Mendukung sepenuhnya keputusan dan ketetapan sidang umum istimewa MPRS 1966
·         Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara sebagaimana dalam pembukaan UUD 1945
·         Menolak manifesto politik sebagai haluan Negara
·         Menjunjung tinggi hak asasi manusia
·         Semua lembaga Negara yang ekstra konstitusional supaya segera dibubarkan
·         Mengikis sisa-sisa Gestapu atau PKI dengan berpegang pada instruksi KOTI 22 dan KOGAM 09
·         PGRI Non-Vaksentral/PKI, Serikat Sekerja Pendidikan, PGTI dinyatakan sebagai ormas terlarang karena merupakan organisasi antek PKI
·         Diaktifkan kembali 27 pejabat kementrian P&K yang dipecat oleh mentri P&K, Prof. Prijono, karena mereka mempertahankan pendidikan yang berdasarkan Pancasila serta menolak Panca Cinta dan Panca Tinggi
·         Disetujuinya PGRI untuk bergabung dalam Sekber Golkar
·         PGRI di wakili secara resmi dalam DPRGR/MPRS
·         Front Nasional di bubarkan
·         PGRI di tegaskan kembali sebagai organisasi yang bersifat unitaristik, independen dan non partai politik

Hasil kongres XI PGRI bidang organisasi antara lain :
1.    Konsolidasi dan pengembangan organisasi kedalam dan keluar untuk menciptakan kekompakan pada seluruh potensi pendidikan
2.    Perubahan dan penyempurnaan AD/ART PGRI yang sesuai perkembangan politik orde baru
3.    Istilah Panitia Umum diganti dengan SekJen dan Panitera diganti dengan Sekretaris
4.    Perluasan keanggotaan PGRI dari guru TK s/d dosen perguruan tinggi
5.    Penentuan criteria/persyaratan pengurus PGRI mulai tingkat pengurus Besar, Pengurus Daerah, Pengurus Cabang hingga Ranting
6.    Intensifikasi penerangan tentang kegiatan organisasi melalui pers, radio, TV, dan majalah Suara Guru
7.    Pendidikan kader organisasi secara teratur dan berencana
8.    KAGI dapat berjalan terus selama masih diperlukan dalam menanggapi situasi perjuangan Tritura-Ampera
9.    PGRI menjadi anggota WCOTP (Word Confederation of Organization of the Teaching Profession)
10. Menyatakan PGRI siap untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Asian Regional Conference (ARC WCOTP)


2B.    Konsolidasi Organisasi pada Awal Orde Baru

          Konsolidasi organisasi PGRI di prioritaskan ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada Harian Kompas tahun 1967 berjudul, “ Porak-porandanya Kereta PGRI di Jawa Tengah”. Tulisan ini merupakan “serangan” kepada PB PGRI masa berserikatan (konggres) XI, karena kelompok tertentu merasa tidak terwakili dalam susunan PB PGRI, dan pGRI dianggap terlalu dekat dengan TNI Angkatan Darat serta Sekber Golkar.

          Utusan PB PGRI yang sering dikirim ke Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah M.E. Subiadinata (Ketua umum PB PGRI), Slamet (Sekretaris Kemasyarakatan/Kebudayaan), Drs.M. Rusli YUnus (Sekretaris Sosial Ekonomi), Drs. WDF  Rindorindo ( Sekretaris Pendidikan), dan T.Simbolon (Sekretaris Penerangan/Humas). Hal ini dilakukan untuk menghimbau para pengurus daerah yang masih merasa ragu-ragu agar mengerti aspirasi orde baru dan menyadari bahwa sikap “Kepala Batu” mereka dapat menyebabkan PGRI dibekukan atau dibubarkan oleh penguasa militer.Pembentukan KAGI di Jawa Timur dan Jawa Tengah, antara lain untuk menyelamatkan PGRI dari kemelut politik pada waktu itu. Hasilnya adalah Konferda PGRI di kedua daerah tersebut berhasil memilih pengurus Daerah PGRI yang baru.

          Sejak selesai kongres XI,PB PGRI telah menghadiri Konferda di 21 provinsi. Dua daerah diluar Jawa yang meng hadapi maslah yang cukup serius pada masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru adalah Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Tahun 1967, dalam pertemuan disekolah Don Bosco Padang, utusan PGRI/KAGI se-Sumatra Barat dapat informasi tentang perkembangan politik selama Orde Baru dari Ketua Umum PGRI,M.E.Subia dinata. Setelah pertemuan itu dilakukan serah terima jabatan Kepala Perwakilan P&KProvinsi Sumatra Barat di kediaman Gubernur Sumatra Barat dengan disaksikan oleh Ketua Umum PB PGRI  dan Ketua Periodik KAGI Pusat. Peristiwa ini merupakan penyelamatan PGRI oleh Ketua Orde Baru di provinsi tersebut.

          Pada bulan juli 1966 PGRI secara resmi diterima menjadi anggota WCOTP dalam Kongres Guru se-Dunia di Seoul, Korea Selatan. Pelaksanaan Asian Regional Coference(ARC-WCOTP) Di Jakarta pada bulan April 1969 menandai untuk pertama kalinya PGRI (Indonesia) menjadi tuan rumah konferensi Internasional Organisasi Guru. Panitia ARC-WCOTP di ketuai oleh Slamet dan sekretaris H.M. Hidayat.

          PGRI di undang untuk mengikuti Trade Union Leader Course di negeri Belanda selama empat bulan. Kursus ini diadakan dua angkatan, angkatan I pada tahun 1969 dan angkatan II tahun 1970.


3C.      Arti Lambang PGRI

          Pada tahun 1970, Kongres XII PGRI kembali digelar di Bandung yang memunculkan Basyuni Suriamihardja untuk pertama kalinya PB PGRI  Basyuni Suriamihardja untuk pertama kalinya PB PGRI yang bertahan lebih dari 25 tahun.

Adapun keputusan-keputusan penting dari konggres ini adalah:
·         Perubahan struktur dan basis-basis organisasi PGRI, yaitu tingkat cabang meliputi wilayah kabupaten/kotamadya, sedangkan wilayah Anak Cabang adalah kecamatan
·         Administrasi organisasi disederhanakan dan diseragamkan unutk seluruh Indonesia
·         Lambang PGRI dan Mars PGRI di lampirkan dalam buku AD/ART PGRI
·         Dalam rangka peringatan 25 tahun PGRI (November 1970), PB PGRI hendaknya menerbitkan buku sejarah perjuangan PGRI yang juga menegaskan sifat-sifat PGRI yang unitaristik, Independen, dan non partai Politik
·         Memanfaatkan keanggotaan PGRI dalam WCOTP untuk meningkatkan kerjasama internasional yang berorientasi pada kepentingan nasional serta mengindahkan dengan sungguh-sungguh politik bebas-aktif yang di anut oleh Indonesia
·         Menyetujui PGRI menjadi anggota IFFTU sepanjang tidak merugikan dan tidak menggurangi identitas PGRI
·         Dalam rangka kerjasama dengan Negara ASEAN, PGRI hendaknya memainkan peranan, terutama dalam pembangunan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia
·         PB PGRI hendaknya menetapakan pedoman tentang kebijaksanaan pengiriman petugas-petugas PGRI ke luar negri agar dapat memperoleh kesempatan

          Kongres XIII PGRI tahun 1973 di Jakarta menetapkan perubahan-perubahan yang mendasar dalam bidang organisasi.

Mengenai arti lambang PGRI, dapat dijelaskan sebagai berikut:
·         Bentuk : cakra/lingkaran melambangkan cita-cita luhur dan daya upaya menunaikan pengabdian yang terus menerus.
·         Ukuran, Corak, dan Warna : Bidang bagian pinggir lingkaran berwarna merah melambangkan pengabdian yang dilandasi kemurnian dan keberanian bagi kepentingan rakyat. Warna putih dengan tulisan “ Persatuan Guru Republik Indonesia” melambangkan pengabdian yang dilandasi kesucian dan kasih sayang. Paduan warna pinggir merah-putih melambangkan pengabdian kepada Negara, bangsa, dan tanah air Indonesia.
·         Suluh berdiri tegak bercorak 4 garis tegak dan datar berwarna kuning melambangkan fungsi guru (pada pendidikan pra-sekolah, dasar, menengah dan perguruan tinggi) dengan hakikat tugas pengabdian guru sebagai pendidik yang besar dan luhur.
·         Nyala api dengan 5 sinar warna merah melambangkan arti ideology Pancasila dan arti teknis yakni sasaran budi pekerti, cipta, rasa, karsa, dan karya generasi.
·         Empat buku mengapit suluh dengan posisi 2 datar dan 2 tegak (simetris) dengan warna corak putih melambangkan sumber ilmu yang mengangkut nilai-nilai moral, pengetahuan, ketrampilan dan akhlak bagi tingkatan lembaga-lembaga pendidikan pra-sekolah, dasar, menengah dan tinggi.
·         Warna dasar tengah hijau melambangkan kemakmuran generasi.

Arti keseluruhan : Guru Indonesia dengan itikad dan kesadaran pengabdian yang murni dengan segala keberanian, keluhuran jiwa dan kasih saying senantiasa menunaikan Darma Baktinya kepada negara, tanah air dan bangsa Indonesia dalam mendidik budi pekerti, cipta, rasa, karsa dan karya generasi bangsa menjadi manusia Pancasila yang memiliki moral, pengetahuan, ketrampilan dan akhlak yang tinggi.

4D.    Berdirinya YPLP-PGRI dan Wisma Guru

          Konggres XIV PGRI tanggal 26-30 Juni 1979 di Jakarta menghasilkan salah satu keputusan penting yaitu mengenai pendirian Wisma Guru. Kongres XIV memutuskan dan menegaskan bahwa pembinaan lembaga pendidikan PGRI perlu dilakukan secara konsepsional, nasional dan terkendali secara organisatoris. Keputusan ini di ambil karena sudah waktunya PGRI memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pembinaan lembaga pendidikannya.

          Untuk melaksanakan keputusan kongres, PB PGRI membentuk YPLP-PGRI dengan Akta Notaris Moh. Ali no.21 tagal 31 Maret 1980 yang berlaku sejak 1 Januari 1980. Dengan surat keputusan PB PGRI No. 951/SK/XIV/1980 TAGAL 10 Oktober 1980 diangkat pengurus pusat YPLP-PGRI  yang pertama. Dalam surat keputusan tersebut ditetapkan tugas pokok YPLP-PGRI, yaitu melakukan pembinaan, pengelolaan, dan pengembangan lembaga pendidikan PGRI di seluruh Indonesia dan bertanggung jawab langsung kepada PB PGRI.

          Untuk menetapkan pola dan landasan organisatoris bagi pelaksanaan tugas YPLPP PGRI maka diselenggarakan Mukernas pertama tanggal 18-20 Mei 1981 di JAKARTA. Hasil keputusan penting diantaranya: penyeragaman nama yayasan memjadi YPLP-PGRI, penetapan AD/ART YPLP-PGRI, penetapan pedoman pembinaan lembaga pendidikan PGRI  yang bersifat nasional.

          Kongres XV PGRI tanggal 16-21 Juli 1984 di Jakarta menggariskan pokok program PGRI untuk kurun waktu lima tahun mendatang  (1984-1989). Salah satu karya besar PGRI pada masa bakti XV ini adalah berhasilnya pembangunan Gedung Guru Indonesia (Wisma Guru) Jl. Tanah Abang III/24 Jakarta.

          Keluarnya UU No.8 tahun 1985 tentang organisasi kemasyarakatan memebawa konsekuensi pada penyesuaiaan AD/ART PGRI yang antara lain menegaskan bahwa PGRI merupakan organisasi profesi.


5E.    Refleksi Tentang Masa Depan PGRI

          Perjuangan PGRI sebagai organisasi profeis guru tercermin dalam tiga bentuk:
a.    Perjuangan dalam bentuk gagasan, nilai, morma, peraturan dan sejenisnya.
b.   Yang berwujud dalam berbagai pola tindakan sesuai dengan tantangan zamannya.
c.   Wujud perjuangan profeional sebagai identitas PGRI yang teruji dalam pasang surut peran yang diembannya dalam panggung sejarah Indonesia sejak tahun 1945.

          Kemungkinan arah pembangunan PGRI untuk 30 tahun mendatang :
a.    Kategori Fundamental yang sejak awal telah dipilih oleh PGRI, yaitu sebagai organisasi yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dengan GBHN-nya. Semangat kebangsaan dan semangat perjuangan PGRI secara  esensial dan eksistensial diilhami oleh landasan-landasan fundamental tersebut. Secara makro, PGRI berpartisipasi aktif secara professional dalam pembangunan bangsa.
b.   Kategori teknis, dalam kategori ini ada  berbagai pilihan. Salah satu di antaranya yang dianggap tepat saat ini adalah dengan mengembangkan dan mendorong proses-proses perubahan yang sistematis dalam tubuh PGRI dan di tengah masyarakat, khususnya dalam masyarakat pendidikan, serta menciptakan sinergi dengan berbagai organisasi lain untuk mengukuhkan peran PGRI.
c.   Kategori Terapan, dalam kategori ini perjuangan didasarkan pada pendekatan mikro yang lazim digunakan oleh PGRI sebagai kebiasaan yang wajar yang meliputi aspek profesi, kesejahteraan, pengabdian kepada masyarakat, dan penataan organisasi. Secara konvensional biasanya aopa yang diperhatikan oleh PGRI boleh dikatakan mengikuti apa yang dilakukan sector pendidikan dalam arti sempit. Tetapi perkembangan masyarakat Indonesia makin lama makin maju, dan hal ini menuntut PGRI untuk lebih aktif mendorong pengembangan sumber daya manusia  sesuai dengan kemampuannya.

     Pada hakekatnya PGRI adalah sebuah organisasi profesi pendidik pada umumnya dan para guru pada khususnya. Akan tetapi, karena tuntutan zamannya, akan tampak bahwa penampilan PGRI yang tercermin dari keputusan kongres yang satu ke kongres yang lain seolah-olah sebagai organisasi massa yang lebih bersifat politis dari pada profesional.




English Tenses

No.
Names of Tenses
Formulas
Adverbs of time
1.
Simple Present Tense
Subject + Verb-1 + Object  / Adverb.
Subject : He   
                She        Verb-1 + s/es
                It
Every day, twice a day, four times a week.
Adverbs of frequencies : (usually placed after subject or before predicate) Seldom, often, usually, generally, commonly, always.
2.
Simple Present Continuous Tense
Subject + to be ( is, am, are) + Verb-ing + Object / adverb

Now
3.
Simple Past Tense
Subject + Verb-2 + Object / Adverb
To be : Is
            Am         past        was / were
            Are
Just now, yesterday, a week ago, last month, last year, the day before yesterday.
4.
Simple Present Future Tense
1.    Subject + Shall / Will + Verb-1 + Object / Adverb.
Shall 
                 Verb-1 without to /
Will            ing / s, es.

2.    Subject + to be (is, am, are) + going to + Verb-1 + Object / adverb.
Tomorrow, Next time, the day after tomorrow, later, soon.
5.
Simple Present Perfect Tense
Subject + Have / Has + Verb-3 + Object / adverb.
       He
       She           Has
       It   
Just, already (+/?), recently, for + time, since, yet (+/?)
6.
Simple Present Perfect Continous Tense
Subject + Have / Has + Been + Verb-ing + Object / adverb
Already (+/?), just since : for + time : recently : Yet (+/?)
7.
Simple Past Continous Tense
Subject + Was / Were + Verb-ing + Object / adverb.

Biasanya dirangkai :
Simple Past Tense + When / While + Simple Past Continous tense
Yesterday, Last week, a month ago, Just now.
8.
Simple Past Future Tense
Subject + Should / Would + Verb-1 + Object / adverb
Look at      Simple Past Tense

Persamaan dan Pertidaksamaan

PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN

A.  Kalimat terbuka dan Pernyataan
Kalimat terbuka, yaitu suatu kalimat yang belum jelas kebenarannya (benar (B) atau salah (S)). suatu kalimat dinyatakan jika:
1.   Benar →(B) berarti isi kalimat tersebut sesuai dengan fakta, atau sesuai aturan, atau sesuai kesepakatan.
2.   Salah →(S) jika tidak Benar atau tidak sesuai dengan fakta, aturan, atau kesepakatan. Jadi bukan karena susunan kalimatnya.
Sebagai Contoh:
1.    Republik Indonesia beribukota di Jakarta.
2.    Semut lebih besar daipada gajah.
3.    2x + 5 = 13
4.    2 + 3 = 7
5.    3 + 2 < 10
6.    n + 3 > 5
7.    Dimana rumahmu?
8.    Berhati-hatilah di jalan.
9.    2 adalah adik dari 4.
10. x lebih tinggi daipada pohon kelapa.

Kesimpulan :
·         Kalimat-kalimat no. 1, 2, 4, 5 sudah dapat dikatakan B atau S. Kalimat-kalimat yang demikian disebut pernyataan.
·         Kalimat-kalimat no. 3, 6  dan 10 belum bernilai B ataupun S karena masih tergantung dari nilai x atau n. Kalimat yang demikian disebut kalimat terbuka. Sedangkan x dan n pada kalimat terbuka disebut variabel. Sedangkan kalimat-kalimat no. 7, 8 dan 9 tidak dapat dikatakan B atau S. Variabel merupakan lambang / simbol yang biasanya berupa huruf, untuk menyatakan anggota sebarang dalam himpunan smestanya. Sedang lambang untuk menyatakan anggota yang sudah tertentu disebut konstanta.

B.  Persamaan dan Pertidaksamaan
Perhatikan contoh berikut :
1. 2x + 4 = 10.                          4. 2x2 + 4x – 5 = 0
2. 3y – 4 = 5                                       5. 3x4 + 3x3 + x +7 = 0
3. 3x – 5 = 6 + x                       6. 2x + 3y + 6 = 0

Contoh di atas merupakan kalimat terbuka, yang mengandung hubungan sama dengan. Kalimat terbuka yang mengandung hubungan ”samadengan” (=) disebut persamaan.

Contoh 1, 2, 3 ini adalah persamaan linear dengan 1 variabel. Mengapa ?
Karena pangkat variabelnya bulat, dan paling tinggi 1. Variabelnya hanya 1 yaitu x atau y
Contoh 4 disebut persamaan kuadrat dengan satu variabel.
Contoh 5 disebut persamaan pangkat 5 dengan 1 variabel.
Contoh 6 disebut persamaan linear dengan dua variabel, yaitu variabelnya x dan y.


Jika lambang ”=” diganti dengan ”<” atau ”>” atau”  ³” atau” £ maka persamaan di atas menjadi pertidaksamaan.

C.  Menyelesaikan Persamaan
Kalimat terbuka dapat diubah menjadi kalimat pernyataan
Salah satu caranya adalah dengan mengganti variabelnya dengan konstanta dalam semestanya.
Contoh :
2 x + 4 = 10 (kalimat terbuka / persamaan)
Jika ”x” diganti ”2” menjadi 2.2 + 4 = 10 (adalah pernyataan yang Salah)
Jika ”x” diganti ”1” menjadi 2.1 + 4 = 10 (adalah pernyataan yang Salah)
Jika ”x” diganti ”” menjadi 2.  + 4 = 10 (adalah pernyataan yang Salah)
Jika ”x” diganti ”3” menjadi 2.3 + 4 = 10 (adalah pernyataan yang Benar)

Konstanta pengganti variabel yang mengakibatkan kalimat terbuka itu menjadi pernyataan yang benar, disebut penyelesaian/solusi kalimat tersebut.
Dalam contoh di atas, 3 adalah solusi dari persamaan 2x + 4 = 10.

Menyelesaikan persamaan berarti mencari penyelesaian dari persamaan tersebut.
Contoh :
Selesaikan persamaan 2 x – 4 = 5x + 8.
Jawab :  2x – 4  = 5 x + 8
2x – 5x = 8 + 4
      - 3x = 12
          x = - 4
Jadi solusinya adalah – 4
Himpunan solusinya adalah  Hp = {-4}


Suatu persamaan akan tetap (ekivalen/mempunyai solusi yang sama) jika ruas kiri dan kanan dari persamaan tersebut, ditambah, dikurangi dikali atau dibagi (tidak dengan nol) dengan bilangan yang sama.

Template by:

Free Blog Templates